27. Logika Berteman
Orang Jepang kalau bertemu dengan siapapun pasti akan membungkukkan badannya. Kenapa? Mereka menjawab ‘membungkuk adalah sikap mengalah untuk menang, seperti pohon ilalang. Membungkuk bukan karena lemah atau mau dinjak-injak seperti lantai tanah’.
Orang yang bijak itu seperti air, ia tidak membentur batu besar tapi mendatanginya dari berbagai arah. Air tidak menghantam apa yang di depannya, tetapi meresap perlahan sampai dinding itu rapuh dan hancur.
Belajarlah dari air, jangan dari batu. Dua buah batu bila digabungkan dengan dua batu lainnya pasti hasilnya akan tetap saja empat batu yang terpisah. Bila dalam berteman yang kita gunakan adalah logika batu, itu akan hanya menghasilkan pertengkaran, kebencian, permusuhan bukannya persatuan. Kumpul-kumpul bisa saja setiap hari, tapi saling terpisah dan dibungkus kepentingan egois masing-masing. Bahkan bisa saja menimbulkan konflik suatu saat nanti.
Pilihlah logika air, begitu menurut Gede Rama. Ciri pertama adalah mengalir dengan penuh kelenturan. Kelenturan bukan kelemahan, tetapi sumber kekuatan. Air yang mengalir di sungai tidak memaksa penghalang seperti batu atau pohon. Air tetap saja melewatinya tanpa memaksa. Yang berati dengan kelenturan, air bisa melewati tantangan di depannya. Kelenturan air tidak mengalahkan orang lain, teapi sampai pada tujuan.
Sifat kedua adalah sifat air laut dan air sumur. Kita tahu bahwa air laut lebih banyak daripada air sungai, karena posisi laut memang lebih di bawah. Di sini menariknya, yang memiliki lebih banyak berarti berada di bawah, ia harus bersikap rendah hati dan melayani bukannya sombong.
Sifat yang ketiga adalah air kolam tenang yang menjadi cermin. Kita harusnya bisa bercermin terhadap diri sendiri juga teman kita. Air danau yang tenang mengajarkan kita untuk tetap tenang dalam menghadapi masalah.
Mengalir menuju tempat yang paling dasar merupak sifat air yang keempat. Yang berati tindakan atau cara berpikir seseorang harusnya kembali ke tujuan dasar. Sifat air yang terakhir adalah bergerak naik secara merata, karena air kalau dituangkan ke tempat apaun naiknya akan bersamaan.
Memaafkan juga merupakan salah satu dari logika air. William Shakespeare berkata ‘ jangan sering menyalakan api dengan musuhmu karena nanti akan membakar dirimu sendiri ‘. Selain itu Konfusius mengatakan, ‘sesungguhnya orang yang pemarah sama halnya dengan memenuhi diri sendiri dengan racun’
Terhadap sahabat, tak ada istilah membalas kemarahan dengan kemarahan. Seorang sahabat adalah seorang saudara kembar yang lahir dari ibu yang lain. Maka dari itu kemarahan hendaknya dibalas dengan keramahan
diubah dari 'La Tahzan For Teens'

0 komentar:
Posting Komentar