Kejujuran
Ada sebuah cerita mengenai kejujuran.
Suatu saat Muhyidin Abdul Kadir Al-Jaelani (1076-1166 M) dikrim keluarganya ke Baghdad untuk belajar. Dia berangkat bersama rombongan kafilah. Dalam perjalanan, mereka diserang oleh sekelompok perampok. Satu persatu anggota rombongan dirampas hartanya. Dan ketika giliran anak muda yang cuma berbekal seadanya, para perampok tidak menemukan apapu kecuali selimut dan pakaian lusuh.
“ Kamu membawa sesuatu?” tanya seorang perampok dengan garang.
“ Ya, saya membawa 40 dinar,” jawab pemuda itu.
Tapi ketika perampok mengaduk-ngaduk isi tasnya, tidak ditemukan apapun. Mereka mengira anak ini adalah orang miskin yang sombong. Lalu anak ini ditinggalkan untuk melanjutkan menggeledah yang lain.
Setelah menggeledah seluruh barang rombongan itu, kawanan itu melapor ke pimpinan. Mereka juga melaporkan mengenai pemuda miskin yang sok kaya. Pemuda tadi pun segera dibawa menghadap sang pimpinan perampok itu.
“ Hei, katanya kau punya 40 dinar?”
“ Ya.”
“ Mana? Ayo tunjukkan!”
Anak itu lalu merobek bajunya dan mengeluarkan uang 40 dinar. Para perampok itu hanya melongo seakan tidak percaya.
“ Mengapa kamu perlihatkan hartamu yang berharga itu? Toh tidak ada yangbakal curiga kalau tidak kamu tunjukkan,”
“ Kata ibu saya, yang menjahit uang ini ke baju saya, janganlah sekali-kali berbohong.”
Para perampok itu bagaikan terkena smash telak dengan perkataan pemuda itu. Bukannya marah, para perampok itu malah menangis. Pikirnya, anak ini masih taat kepada ibunya, sedangkan aku tidak taat kepada Penciptaku. Setelah itu para perampojk itupun mengembalikan barang rampasan tadi dan bertobat, kembali ke jalan yang benar.
“ Kamu membawa sesuatu?” tanya seorang perampok dengan garang.
“ Ya, saya membawa 40 dinar,” jawab pemuda itu.
Tapi ketika perampok mengaduk-ngaduk isi tasnya, tidak ditemukan apapun. Mereka mengira anak ini adalah orang miskin yang sombong. Lalu anak ini ditinggalkan untuk melanjutkan menggeledah yang lain.
Setelah menggeledah seluruh barang rombongan itu, kawanan itu melapor ke pimpinan. Mereka juga melaporkan mengenai pemuda miskin yang sok kaya. Pemuda tadi pun segera dibawa menghadap sang pimpinan perampok itu.
“ Hei, katanya kau punya 40 dinar?”
“ Ya.”
“ Mana? Ayo tunjukkan!”
Anak itu lalu merobek bajunya dan mengeluarkan uang 40 dinar. Para perampok itu hanya melongo seakan tidak percaya.
“ Mengapa kamu perlihatkan hartamu yang berharga itu? Toh tidak ada yangbakal curiga kalau tidak kamu tunjukkan,”
“ Kata ibu saya, yang menjahit uang ini ke baju saya, janganlah sekali-kali berbohong.”
Para perampok itu bagaikan terkena smash telak dengan perkataan pemuda itu. Bukannya marah, para perampok itu malah menangis. Pikirnya, anak ini masih taat kepada ibunya, sedangkan aku tidak taat kepada Penciptaku. Setelah itu para perampojk itupun mengembalikan barang rampasan tadi dan bertobat, kembali ke jalan yang benar.
Setelah membaca kisah di atas, apa yang kita bisa ambil?
Janganlah berbohong. Akibat bohong kita dapat kehilangan kekuatan komunikasi karena tidak berbicara benar. Orang lain pun akhirnya mengetahui bahwa kita berbohong. Mereka pun akhirnya tidak mendengarkan kita. Selain itu, jika kita berkata jujur orang lain pasti akan mendengarkan perkataan kita.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar